Lebih Dekat dengan Destinasi Digital Millenil

Wisata dapat kita artikan sebagai kegiatan bepergian dengan tujuan untuk bersenang-senang, menambah pengetahuan, dan lain-lain. Selain itu juga dapat diartikan sebagai kegiatan bertamasya atau piknik yang diharapkan dapat menenangkan hati dan pikiran serta menyegarkan otak. Di era sekarang memposting foto travelling di media sosial sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang terutama generasi millennial. Alih-alih mengeksplorasi alam yang dikunjungi dan menikmati kebudayaan masyarakat lokal setempat kini sebagian wisatawan lebih memprioritaskan pengambilan foto di lokasi yang terlihat instagramable.

“Tentu sebelum pergi, cari dulu wisata apa yang punya pemandangan yang bagus. Jadi, paling utama saat pilih tempat wisata sih pasti pemandangan alamnya, kekayaan alamnya, soalnya pas liburan tujuan kan memang buat refresh otak,” kata Anisha kepada VIVA di Jakarta. (sumber: www.viva.co.id) Itu membuktikan bahwa sebagian millennial kini mengacu pada foto-foto wisata di media sosial instagram dalam memilih destinasi liburannya.

Dari tren travelling inilah kini menjadi perhatian utama bagi Kementrian Pariwisata. Sebagai bentuk antisipasi pemerintah terhadap perubahan gaya hidup tersebut kini Kementrian Pariwisata memaksimalkan peran generasi muda dan media sosial, kementerian menargetkan pengembangan 100 destinasi wisata diditalyang akan dibanun khusus untuk menarik wisnus di 34 provinsi di Indonesia.

Lalu apa itu sebenarnya wisata digital? Wisata digital itu sendiri merupakan destinasi yang dikreasikan oleh kaum milenial yang kreatif serta memiliki spot foto yang fotogenik untuk diunggah di media social dan diharapkan selalu viral  di media sosial menargetkan customer kepada generasi milenial yang 70% eksis di dunia maya, media social, dan media digital. Wisata digital menawarkan destinasi wisata yang instagrammable, Instagenic, serta spot foto yang layak diposting di semua platform meida social.

Destinasi digital itu sendiri dipopulerkan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya setelah melihat fenomena unik di kalangan millenial. Dimana para generasi milenial kini apabila setiap membuat suatu aktivitas akan selalu didokumentasikan entah itu dalam bentuk foto, video ataupun dalam bentuk blog dengan cara unik dan menarik. Nantinya hasil-hasil tersebut akan diupload atau diunggah di media social, dan hasil dari unggahan tersebut akan selalu meledak, selalu heboh, selalu menjadi trending topik, dan viral di mana-mana. Maka dari itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan juga mengenai destinasi digital adalah sebuah produk pariwisata yang kreatif dan dikemas secara kekinian.

Arief Yahya sebagai Menteri Pariwisata Indonesia menilai, keinginan generasi millennial, maupun individu yang senang ‘pamer’ di media sosial menjadi potensi baik untuk meningkatkan pariwisata dunia digital ini. Ini juga sebagai salah satu langkah untuk mendongkrak pariwisata Indonesia demi mencapai target kunjungan 17 juta wisatawan mancanegara. Menurutnya, destinasi digital ini adalah destinasi yang dikreasi generasi millennial dengan positioning esteem economy

Syarat-syarat dalam membuat destinasi digital itu sendiri tidak lah susah, yaitu hanya diperlukan  :

  1. Komunitas atau perkumpulan yang isinya orang-orang dengan passion Pariwisata dan juga rajin memposting mengenai tema-tema dari pariwisata itu sendiri, apakah itu destinasi wisatanya, calendar of event, dan juga kebijakan pariwisata.
  2. Kesungguhan untuk mengelola teknis, mengorganisir dan juga berkolaborasi dengan masyarakat dan pemilik lahan yang nantinya akan mempromosikan lokasi wisata dan mengorkestrasi secara nasional sehingga bisa menjadi viral.
  3. Mendapatkan support atau rekomendasi dari pemerintah setempat agar lokasi tersebut dapat mendapatkan perhatian dari daerah itu sendiri.

Di jaman sekarang teknologi informasi dikalangan masyarakat sudah berkembang sangat pesat, anak-anak milenial sudah lebih banyak menggunakan gadget untuk berinteraksi dan lebih aktif menggunakan media social. Anak-anak milenial saat ini berkebutuhan untuk pengakuan melalui media social juga sangatlah tinggi, mereka sangat membutuhkan view, like, comment, share, repost, bahkan followers di media sosialnya, sehingga sudah menjadi kebutuhan dasar sebagaimana sandang pangan papan perumahan, charger, powerbank dan wifi di handphone.

Merekalah yang selalu heboh, mengeksplorasi destinasi, memposting experiences berwisata menjelajah bagian-bagian unik, aneh, asyik di Indonesia. Mereka juga yang membuat Indonesia semakin dikenal, dengan foto, video dan text story yang asyik. Maka dari itu, Destinasi Digital adalah jawaban untuk kebutuhan-kebutuhan mereka, apakah itu untuk berkumpul offline, networking, ataupun untuk figur-figur community influencer. Sehingga destinasi digital saat ini adalah saat sangat ideal untuk dibangun guna mewadahi generasi milenial yang selanjutnya akan diikuti oleh masyarakat umum lainnya.

Destinasi digital itu sendiri memiliki banyak keuntungan untuk para generasi milenial yaitu seperti networking atau berteman dengan banyak orang dari berbagai belahan bumi lainnya, dengan beragam latar belakang, keahlian, kompetensi dan juga karakter sehingga akan berpotensi membuat generasi yang mengikutinya semakin berwawasan luas. Selain networking juga ada keuntungan lain yaitu seperti belajar membuat suaru konten yang bisa berbentuk video atau foto yang indah dan unik sehingga banyak orang akan menikmati apa yang akan disampaikan oleh sang creator dan juga bisa saling memberikan masukan yang dapat membangun. Dan masih banyak lagi keuntungan yang dihasilkan dari destinasi digital itu sendiri.

Untuk mewujudkan pembangunan 100 destinasi digital tersebut, Kemenpar telah bekerjasama dengan Pemerintah Daerah di Indonesia, baik level Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota, dan Pemerintah Kabupaten untuk membangun infrastruktur dasar seperti jalan, air, listrik, koneksi WiFi, lokasi sampah, serta toilet. Infrastruktur dasar tersebut bertujuan untuk memudahkan wisnus dalam menikmati kunjungannya selama berwisata di suatu destinasi digital. 

Contoh wisata digital yang ada pada saat ini seperti Labuan Bajo-Nusa Tenggara Timur, Pasar Baba Boentjit di Palembang, Pasar Siti Nurbaya di Sumatera Barat, Orchid Forest Cikole di Lembang.

Orchid Forest Cikole

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started