DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI 0.4 TERHADAP PARIWISATA

Pada saat ini salah satu sejarah terbesar di dunia adalah dengan adanya Revolusi Industri. Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan kita tidak bisa lepas dari benda dan alat yang kita gunakan untuk mempermudah aktivitas dan pekerjaan setiap manusia, dimana hal tersebut adalah hasil dari revolusi industri. Revolusi Industri 4.0 adalah konsekuesnsi logis dari perubahan sebagai sebuah keniscayaan. 

Jika kita kilas revolusi industri dimulai pada tahun 1784 dengan ditemukannya mesin uap dan alat-alat mekanisasi, namun pada Revolusi Industri yang kedua terjadi pada abad ke-19 dimana ditemukan produksi dengan bantuan listrik. Lalu Revolusi Industri yang ketiga ditandai dengan hadirnya penggunaan teknologi komputer untuk otomasi manufaktur pada tahun 1970. Dan saat ini kita sebagai bangsa Indonesia menjajaki masa revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan ekspansi teknologi melalui kecanggihan digital dan internet yang sudah kita rasakan sampai hari ini, misalnya Traveloka, Go-Jek, Grab, Online Shop dan lain-lain yang telah memudahkan masyarakat untuk mengaksesnya pada gadget mereka.

Hal ini juga dapat ditandai dengan berubahnya perilaku wisatawan yang sangat digital dan semakin dominannya wisatawan milenial. “Sekitar 70% wisatawan melakukan search and share melalui platform digital dan lebih dari  50% inbound travellers kita adalah kaum milenial. Untuk itu, milenial harus memanfaatkan tourism 4.0 sebagai sumber keunggulan kompetitif baru dalam memenangkan pariwisata di pasar global,” ujar Arief Yahya pada acara Millennials Gathering 2019 di Swiss-Belhotel Borneo Samarinda, Kalimantan Timur pada Sabtu (30/03/2019). Disamping itu juga Menteri Pariwisata Arief Yahya juga memanfaatkan teknologi augmented reality (AR). Teknologi ini memungkinkan munculnya pelayanan e-conciergemobile payment, atau asisten pribadi. Sementara itu, teknologi virtual reality memungkinkan penyedia jasa pariwisata mengurangi jumlah brosur.

Maka dari itu Revolusi Industri sudah menjadi tuntutan sesuai kebutuhan zaman yang tidak bisa dihindarkan lagi. Kita harus siap menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan berfikir kritis, kreatif, komukasi, dan bekerjasama. Dengan harapan juga akan melahirkan generasi yang kompetitif dan berdaya saing tinggi baik itu di bidang digitalnya maupun pariwisatanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya meyakini, datangnya Era Creative atau Cultural Industry dalam revolusi industri 4.0 adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan. Karena cepat atau lambat akan menyisir hampir di seluruh sektor, tak terkecuali pada bidang pariwisata. Sadar akan hal tersebut, Menteri Pariwisata punya cara sendiri untuk menyambut revolusi industri 4.0 yang serba digital tersebut. Diantaranya adalah dengan menyiapkan platform digital dengan nama New ITX-Indonesia Tourism Exchange. Platform tersebut adalah sebuah etalase produk pariwisata berwujud digital agar UMKM  kecil, mikro, dan menengah tetap eksis dengan berjualan paket melalui digital marketplace.

Perguruan Tsinghua SEA dan Yayasan Unity in Diversity (UID) baru saja menggelar forum diskusi “Industry Revolution 4.0: Shape Your Future with Artificial Intelligence and Big Data” di UID Creative Campus, Bali. Forum diskusi ini menjadi rangkaian dari acara TECHTalk Tsinghua SEA ini merupakan bagian dari usaha mendorong pemanfaatan teknologi terutama di era Revolusi Industri. Di acara tersebut, hadir beragam narasumber dari bidang teknologi. Bali sendiri disebut mampu mendongkrak lagi potensi wisatanya dengan merangkul teknologi digital. Mengingat Bali memiliki banyak desa wisata maka pemanfaatan teknologi big data meliputi pendataan potensi desa wisata yang ada di Bali dan dikolaborasikan dengan beragam data terkait wisatawan dan pengunjung bisa memberikan pandangan yang sangat luas.

Namun di balik gegap-gempita dan ingar-bingar dan antusiasme kalangan pemikir aliran optimisme menyambut revolusi industri 4.0, dan sebagaimana layaknya sebuah revolusi, diperkirakan revolusi industri 4.0 menyimpan jebakan yang sangat penting untuk diantisipasi. Hasil riset McKinsey & Company memperkirakan 47% pekerjaan akan menghilang dalam seperempat abad mendatang. Robot dan kecerdasan buatan bahkan menyingkirkan pekerjaan 800 juta tenaga kerja di seluruh dunia pada tahun 2030.

Berbagai profesi juga akan menghilang, digantikan oleh kegiatan mesin. Teknologi canggih ini juga akan menyebabkan marginalisasi sejumlah kelompok, memperbesar kesenjangan ekonomi, memunculkan risiko keamanan, dan merusak hubungan antar manusia. Tanpa persiapan dan antisipasi yang terarah, terencana dan berkelanjutan, efek negatif tersebut akan merusak optimisme Bali di dalam melanjutkan pembangunan serta upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali. Pembanguan Bali saat ini dan pada masa yang akan datang, masih tidak lepas kaitannya dengan pembangunan tiga strategi sektoral yaitu, pembanguan pertanian dalam arti luas, pembangunan pariwisata dan pembangunan industri kecil, yang dilaksanakan konsisten berbasis budaya dan lingkungan.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started